Tiap benda punya sejarah. Makin panjang sejarahnya makin menarik. Mungkin itu kenapa saya menyukai barang-barang retro dan antik. Each of them has a story. Mungkin kalau anda membeli sebuah barang antik di flea market atau di toko, anda tidak tahu sejarahnya, tapi pasti ada. Berbeda dengan mass product yang fresh from the oven. Kurang seru. Saya suka mengkhayal sendiri tentang perjalanan sebuah barang, yang dibuat tahun sekian dan berakhir di rumah saya. Berapa rumah yang menjadi indah karenanya. Berapa keluarga yang dibahagiakan karenanya. Aih, jadi sentimentil.
Seperti mesin jahit ini. Mesin jahit klasik ini adalah milik nenek saya, dari tahun 50an. Kalau menurut ibu saya, beliau ini adalah wanita terhebat di dunia. Bukan hanya fakta bahwa dia membesarkan 6 anak sendirian (kakek saya meninggal waktu ibu saya masih berumur 6 tahun), tapi bahwa dia sangat canggih mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Dulu waktu saya belum menikah dan mendengar cerita ibu saya tentang beliau, saya hanya berpikir, apa susahnya sih mengurus rumah? Bagi saya waktu itu, mengerjakan tugas kantor pastinya lebih sulit. Tetapi setelah menikah, mempunyai anak, dan mempunyai rumah sendiri, wow, susah ya ternyata. Di kantor kita bisa berusaha heartless dengan alasan profesional supaya kerjaan beres, tapi di rumah, we have to be all heart but need every task to be done also.
Kembali tentang nenek saya, membesarkan 6 anak sendirian itu benar-benar literal. SENDIRIAN. Tidak ada pembantu, baby sitter, dan pastinya tidak ada suami. Dan karena hanya mengandalkan dana pensiun, jadinya pengeluaran juga harus diatur dengan hati-hati. Makanan dimasak sendiri, bahkan untuk beberapa bahan makananpun tidak membeli jadi tapi dibuat sendiri. Nah, apalagi dana untuk belanja-belanji, mana ada? Tapi anehnya, waktu saya melihat foto-foto mereka, keluarga nenek saya, wow, modis-modis sekali. Kok bisa? Ternyata, ini semua karena mesin jahit ini.
Ibu saya bercerita tentang bagaimana nenek saya menjahit sampai tengah malam, demi karena salah satu anaknya ada acara kostum di sekolah. Atau betapa dia sampai terkantuk-kantuk membuat baju pesta dansa untuk salah seorang anaknya yang mau datang ke perpisahan sekolah. Bayangkan, sempat-sempatnya dia menjahit semua baju boneka ibu saya, lengkap dari baju rumah, baju tidur, sampai baju pesta! Ini semua beliau kerjakan menggunakan mesin jahit merek Singer ini. Ketika ibu saya dewasa, beliau juga menjahit baju-baju pestanya dengan mesin ini. Bisa tuh, menjahit di hari Kamis, kelar di di hari Sabtu, malamnya berangkat deh ke pesta dansa!
Mesin jahit ini kemudian diwariskan dari ibu saya kepada saya. Ajaibnya, barang antik yang umurnya jauh lebih tua dari saya ini, masih bekerja dengan baik. Saya malah sudah sempat mengganti kain sofa-sofa dan beberapa kursi, dijahit menggunakan mesin ini, awal Februari lalu. Jangan kagum dulu, yang mengerjakan bukan saya tapi seorang tukang sofa yang bisa dipanggil ke rumah. Namanya Pak Peter. Saya belum bisa menjahit sampai sekarang. Nanti mungkin akan belajar. :)
Saya jadi mencari tahu juga soal Isaac Singer, pendiri perusahaan mesin jahit Singer. Jadi dari yang saya baca, beliau inilah yang menemukan mekanisme naik turun pada mesin jahit dan Allen Wilson mengembangkan alat kait pemintal berputarnya. Awalnya memang beliau tidak langsung memproduksi mesin jahit, tapi mesin pengebor batu (1839) dan mesin ukir kayu dan logam (1849). Barulah kemudian dia memproduksi mesin jahit, kemudian mendirikan IM Singer Co sebagai produsen mesin tersebut. Mesin jahit memang belum menjadi barang produksi massal hingga tahun 1850-an. Setelah Isaac Singer berhasil membuat mesin jahit dengan jarum jahit yang bisa digerakkan kayuhan pedal kaki, maka kesuksesan penjualan mesin jahit secara komersial terbuka. Sebelumnya, mesin jahit terdahulu menggerakkan jarumnya dari pinggir dan digerakkan dengan tangan.
Tapi yang saya tahu hebat juga selain Isaac Singer dan ibu saya, adalah nenek saya. Meskipun belum pernah bertemu dengannya karena beliau meninggal sebelum ibu saya menikah, saya suka membayangkan dirinya menjahit dengan mesin jahit ini di rumah saya. Horor? Ya nggak lah. Nenek sendiri kan. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar