Kerongkongannya perih dan terluka
Menelan paku dan beling yang kita tebar di pesisir
Dehidrasi karena hujan lupa tercurah
Bumi sedang lapar sayang
Lambungnya teriris dan bernanah
Mencerna tulang belulang sisa peradaban
Hanya tulang bukan daging
Sekarang bumi marah sayang
Histeris dalam keputusasaan
Berdarah dilumur dendam
Menjerit karena dinomorduakan
Bumi mulai apatis sayang
Atau mungkin mencoba melupakan
Bahwa dia pernah mencoba mencintai
Tetapi selalu dikecewakan
Semua memang salah kita
Suami-suami tak bertanggung jawab
Isi rahimnya kita jarah paksa
Kita jual seperti budak belian
Haus.
Lapar.
Marah.
Apatis.
Itu semua sudah lewat
Sekarang langit malas menjawab
Semua doa yang kita panjatkan
Dimuntahkan lagi dengan muak ke tanah
Bumi sekarat sayang
Nafasnya tersenggal sambil ia meregang
Dan ini semua karena kita
Suami-suami bumi yang lupa daratan
Jakarta, 2008
Note: Puisi ini saya buat pada tahun 2008. Waktu itu saya baru melahirkan anak kedua saya, Gemayel. Dengan dua anak di samping saya yang baru saja mau memulai hidupnya, sayang sekali kalau saya sebagai orang tua nggak berusaha untuk melakukan langkah-langkah kecil yang membuat dunia mereka nanti lebih nyaman dihuni. We could do it. One step at a time.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar