Kamis, 31 Maret 2011

Inspiring items


Vintage Trunk
From: http://ideas.homelife.com.au/

Vintage Globe
From: http://sundayinbed.tumblr.com/


Retro Telephone
From: http://www.etsy.com/

Retro Fan
From: http://www.poetichome.com/

Sebuah mesin jahit

Tiap benda punya sejarah. Makin panjang sejarahnya makin menarik. Mungkin itu kenapa saya menyukai barang-barang retro dan antik. Each of them has a story. Mungkin kalau anda membeli sebuah barang antik di flea market atau di toko, anda tidak tahu sejarahnya, tapi pasti ada. Berbeda dengan mass product yang fresh from the oven. Kurang seru. Saya suka mengkhayal sendiri tentang perjalanan sebuah barang, yang dibuat tahun sekian dan berakhir di rumah saya. Berapa rumah yang menjadi indah karenanya. Berapa keluarga yang dibahagiakan karenanya. Aih, jadi sentimentil.

Seperti mesin jahit ini. Mesin jahit klasik ini adalah milik nenek saya, dari tahun 50an. Kalau menurut ibu saya, beliau ini adalah wanita terhebat di dunia. Bukan hanya fakta bahwa dia membesarkan 6 anak sendirian (kakek saya meninggal waktu ibu saya masih berumur 6 tahun), tapi bahwa dia sangat canggih mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Dulu waktu saya belum menikah dan mendengar cerita ibu saya tentang beliau, saya hanya berpikir, apa susahnya sih mengurus rumah? Bagi saya waktu itu, mengerjakan tugas kantor pastinya lebih sulit. Tetapi setelah menikah, mempunyai anak, dan mempunyai rumah sendiri, wow, susah ya ternyata. Di kantor kita bisa berusaha heartless dengan alasan profesional supaya kerjaan beres, tapi di rumah, we have to be all heart but need every task to be done also.

Kembali tentang nenek saya, membesarkan 6 anak sendirian itu benar-benar literal. SENDIRIAN. Tidak ada pembantu, baby sitter, dan pastinya tidak ada suami. Dan karena hanya mengandalkan dana pensiun, jadinya pengeluaran juga harus diatur dengan hati-hati. Makanan dimasak sendiri, bahkan untuk beberapa bahan makananpun tidak membeli jadi tapi dibuat sendiri. Nah, apalagi dana untuk belanja-belanji, mana ada? Tapi anehnya, waktu saya melihat foto-foto mereka, keluarga nenek saya, wow, modis-modis sekali. Kok bisa? Ternyata, ini semua karena mesin jahit ini.



Ibu saya bercerita tentang bagaimana nenek saya menjahit sampai tengah malam, demi karena salah satu anaknya ada acara kostum di sekolah. Atau betapa dia sampai terkantuk-kantuk membuat baju pesta dansa untuk salah seorang anaknya yang mau datang ke perpisahan sekolah. Bayangkan, sempat-sempatnya dia menjahit semua baju boneka ibu saya, lengkap dari baju rumah, baju tidur, sampai baju pesta! Ini semua beliau kerjakan menggunakan mesin jahit merek Singer ini. Ketika ibu saya dewasa, beliau juga menjahit baju-baju pestanya dengan mesin ini. Bisa tuh, menjahit di hari Kamis, kelar di di hari Sabtu, malamnya berangkat deh ke pesta dansa!




Mesin jahit ini kemudian diwariskan dari ibu saya kepada saya. Ajaibnya, barang antik yang umurnya jauh lebih tua dari saya ini, masih bekerja dengan baik. Saya malah sudah sempat mengganti kain sofa-sofa dan beberapa kursi, dijahit menggunakan mesin ini, awal Februari lalu. Jangan kagum dulu, yang mengerjakan bukan saya tapi seorang tukang sofa yang bisa dipanggil ke rumah. Namanya Pak Peter. Saya belum bisa menjahit sampai sekarang. Nanti mungkin akan belajar. :)

Saya jadi mencari tahu juga soal Isaac Singer,  pendiri perusahaan mesin jahit Singer. Jadi dari yang saya baca, beliau inilah yang menemukan mekanisme naik turun pada mesin jahit dan Allen Wilson mengembangkan alat kait pemintal berputarnya. Awalnya memang beliau tidak langsung memproduksi mesin jahit, tapi mesin pengebor batu (1839) dan mesin ukir kayu dan logam (1849). Barulah kemudian dia memproduksi mesin jahit, kemudian mendirikan IM Singer Co sebagai produsen mesin tersebut. Mesin jahit memang belum menjadi barang produksi massal hingga tahun 1850-an. Setelah Isaac Singer berhasil membuat mesin jahit dengan jarum jahit yang bisa digerakkan kayuhan pedal kaki, maka kesuksesan penjualan mesin jahit secara komersial terbuka. Sebelumnya, mesin jahit terdahulu menggerakkan jarumnya dari pinggir dan digerakkan dengan tangan.

Tapi yang saya tahu hebat juga selain Isaac Singer dan ibu saya, adalah nenek saya. Meskipun belum pernah bertemu dengannya karena beliau meninggal sebelum ibu saya menikah, saya suka membayangkan dirinya menjahit dengan mesin jahit ini di rumah saya. Horor? Ya nggak lah. Nenek sendiri kan. :)




Cerita untuk si kecil

Bumi sedang haus sayang
Kerongkongannya perih dan terluka
Menelan paku dan beling yang kita tebar di pesisir
Dehidrasi karena hujan lupa tercurah

Bumi sedang lapar sayang
Lambungnya teriris dan bernanah
Mencerna tulang belulang sisa peradaban
Hanya tulang bukan daging

Sekarang bumi marah sayang
Histeris dalam keputusasaan
Berdarah dilumur dendam
Menjerit karena dinomorduakan

Bumi mulai apatis sayang
Atau mungkin mencoba melupakan
Bahwa dia pernah mencoba mencintai
Tetapi selalu dikecewakan

Semua memang salah kita
Suami-suami tak bertanggung jawab
Isi rahimnya kita jarah paksa
Kita jual seperti budak belian

Haus.
Lapar.
Marah.
Apatis.

Itu semua sudah lewat
Sekarang langit malas menjawab
Semua doa yang kita panjatkan
Dimuntahkan lagi dengan muak ke tanah

Bumi sekarat sayang
Nafasnya tersenggal sambil ia meregang
Dan ini semua karena kita
Suami-suami bumi yang lupa daratan

Jakarta, 2008

Note: Puisi ini saya buat pada tahun 2008. Waktu itu saya baru melahirkan anak kedua saya, Gemayel. Dengan dua anak di samping saya yang baru saja mau memulai hidupnya, sayang sekali kalau saya sebagai orang tua nggak berusaha untuk melakukan langkah-langkah kecil yang membuat dunia mereka nanti lebih nyaman dihuni. We could do it. One step at a time.

Why Retro?

Me and my hub bought our first home a few years back. Obviously I’m into retro interior, love collecting furnitures from the 50’s and 60’s. I know, it’s not easy to be all vintage because it takes a lot of effort (and money) to do a refurbish. But I’m sure it would be much more economical than buying a new expensive one and (or) buying cheap ones only to see them deteriorate in a couple of years.

Of course vintage is not always attractive, so refurbishing can give a fresh new feel to it. I'm not trying to be greener-than-thou, but we could start by stopping ourselves from dumping garbage to this wonderful earth. I’m also not against combining vintage furnitures with the a good quality modern ones with the retro look. It's like being a vegetarian lacto ovo, before going all vegan. ;) Good quality funitures last longer than some cheapo stuff that we mindlessly bought. If we're bored with them, we could always sell them in some garage sale so other people could use them for their houses. The key is good quality ones. After all, other people's garbage could be other people's treasures.

One step at a time.

Rabu, 30 Maret 2011

Flea Market dan Yard Sale di London

Sebetulnya saya iri dengan  yard sale atau flea market di luar negeri. Di situ kita betul-betul bisa membeli barang-barang tak terpakai oleh orang lain dengan harga murah dan menggunakannya untuk rumah kita. Beberapa kali saya datang ke garage sale di Jakarta, tapi harus pulang dengan kecewa karena ternyata bazaar aja gitu. Barang-barang baru pula. Huh.  Tempat jual barang antik terkenal di Jakarta, Jalan Surabaya meskipun lumayan, tapi tetap harus hati-hati. Biasa saja penjualnya sok-sokan bilang itu barang antik Eropa dari tahun 1957, taunya dicek bawahnya ada tulisan Made in China tahun 80-an. Mending beli yang Made in Indonesia dong ah. Harganya juga harus ngotot nawarnya, kalau tidak kita bisa bayar lebih mahal dari nilainya. Banyak yang bilang flea market di Yogyakarta sih lebih menarik. Saya ada rencana ke Yogyakarta tahun ini sama suami dan ingin bener-bener berburu barang antik yang lucu-lucu di sana. Nanti akan saya posting di sini.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah ke London dan menyaksikan betapa yard sale dan flea market di sana betul-betul bikin ngiler. Sayangnya waktu itu saya lagi bokek dan biaya pengiriman perabot besar dari sana ke Indonesia bisa lebih mahal dari harga perabotannya sendiri! Lagian waktu itu saya belum punya rumah sendiri, jadi keinginan beli perabotan tidak sebesar sekarang (bingung juga dimana nyimpennya).

Salah satu flea market yang pernah saya datangi di London adalah Camden Markets, yang jaraknya sekitar 1 mil dari stasiun kereta Chalk Farm. Pasar utamanya terletak di Regent's Canal.  Dari buku-buku lama alat-alat musik, kerajinan tangan, baju bekas, perhiasan semuanya bisa didapat dengan harga murah di sini. Tiap akhir minggu ada sekitar 100.000 tukang belanja yang datang ke sini, bayangin ramenya kayak apa! 




Ada lagi yang namanya Covent Garden Market. Ini juga terkenal sekali di Inggris. Di sini juga banyak sekali barang lucu-lucu dan antik (my favorite!) dari keramik, barang-barang dari kulit, aneka macam gelas. mainan, baju, topi dsb. Kalau pengemar barang antik seperti saya mendingan datang hari Senin, karena di hari ini paling banyak jualan barang-barang antik yang menarik sekali untuk dikoleksi. Mabok lah pokoknya kalau liat. Pokoknya jangan ke sana pas lagi duit tiris (seperti saya waktu itu) karena jadinya sediiiih banget. Huhuhuhu..




Untuk penggemar barang antik atau retro, perlu juga cek yang namanya Jubilee Market.  Ini juga menarik untuk didatangi apalagi kalau hari Senin, karena banyak barang antiknya. Ada lagi Berwick Street Market, nah kalo di sini pas untuk penggemar musik, karena banyak dijual plat hitam jadul, buku-buku lama, dan majalah. Jangan kaget, disini juga ramai jualan film-film (maaf) porno karena lokasinya yang dekat dengan deretan strip club. Satu lagi yang penting untuk penggemar barang antik yaitu Portobello Market di dekat Notting Hill. Ini juga magnet buat para kolektor barang antik. Tapi harus hati-hati belanja di sini karena banyak barang baru tapi sok-sokan dibilang antik (mirip dengan jalan Surabaya ya). Bilangnya biola antik warisan keluarga Itali, taunya tembakan dari pawn shop aja gitu, jadi bener-bener harus hati-hati dan mengerti barang antik.



Nah, kalo yard sale pastinya diadakannya nggak tentu ya, kalo ada yang pindahan rumah ya biasanya bikin yard sale. Sayangnya pas saya lagi ke sana beberapa yard sale yang saya datangi barangnya jelek-jelek. Pulanglah diriku dengan kecewa.

Anyway, sebetulnya di Jakarta banyak juga sih bursa barang antik, bekas, dan murah. Seperti di Kwitang, Pasar baru, Poncol dsb. Saya akan hunting fotonya dulu dan saya akan posting disini ya. Soal garage sale, meskipun banyak yang ngaku garage sale taunya bazaar, ada beberapa yang lumayan sih. Salah satunya yang diadakan oleh JakGarageSale. Katanya sih awal Mei akan ada lagi. Follow aja twiternya:  @JakGarageSale . Let's check it out!

Are You Interior Design Obsessed?

8 signs you're interior design obsessed
  1. You have years worth of interior designs books and magazines alphabetically stacked.
  2. You browsed interior designs blogs, reblogged the designs you like, while expreriencing an orgasmic feeling with a hint of sigh.
  3. The people at the local furniture store know you by name.
  4. Your living room is actually smaller than it was when you moved in- 4 years ago. 
  5. You could go on and on about the subtle color differences between Antique White, Berkshire’s White, and Slipper Satin.
  6. You rather save for your favorite designer chair than for a designer bag.
  7. You’ve perfected the art of browsing  the garage sale while doing a faster than light but thorough scan of all the furniture, to see if there are any ‘gems’.
  8. You daydream about your future house more often than you daydream about your future guy.
P.S Tulisan ini pernah saya muat di Tumblr saya http://livingretro.tumblr.com/
Kalo mau cek-cek boleh banget lho. :p Disitu saya mengumpukan foto-foto inspirasi interior rumah di berbagai negara.

Selasa, 29 Maret 2011

Teak Vintage Barong Cabinet

Ini lemari antik barong kesukaan saya. Barong is actually a character in the mythology of Bali. A king of spirits, leader of the host of good, and a protector spirit, he is often represented by a lion. It’s amazing how the designer managed to combine a modern retro look with ethic ambience without looking rustic. This cabinet is actually older than me (again, it’s from the fifties) and still going strong.




My teak retro chairs


A glimpse of my house.  Modelnya modern tropis dan banyak bukaan, sehingga kalau siang nggak perlu lampu. Rumah saya juga hanya menggunakan AC di kamar, di ruang keluarga kalau panas ya buka jendela aja, berhubung rumah banyak banget pintu dan jendelanya.

Nah, ngomong-ngomong soal retro, ini perangkat furnitur retro dari tahun 50-an, dibuat oleh seorang desainer Belanda, buat rumah nenek saya di Bogor. Saya terus terang masih terkagum-kagum dengan desainnya yang sangat modern, bahkan langsung cocok dengan rumah modern tropis saya yang dibangun di tahun 2000an. Dan karena dibuatnya tahun 50an, jadi kayu jati yang digunakan adalah jati tua, yang pastinya kuat, tak lekang oleh waktu.

Saya pernah mengganti kulit kursinya (awalnya dulu warna maroon gelap) beberapa tahun yang lalu supaya tampil lebih modern. Tapi ternyata sekarang juga sudah agak mbrudul, nantilah kalo ada sisa budget akan saya ganti lagi dengan warna lain.

My Vintage Love

It's always hard to start a new blog. What to say, what to express. But, honestly, I made this blog because I lurve lurve vintage furnitures.Why? Sounds like a cliche, but I kinda like having furnitures with stories to tell, not just some mass produced stuff fresh from the oven. Don't get me wrong, I did buy some cheapos from those place, it's when we first move and we have no furnitures what so ever and eating on the floor seems like a bad bad idea. But I try hard not to this time around. The world has too much garbage as it is.

Now that I'm no longer working in an office, I could focus more on decorating my house and hunt vintage furnitures that I like, while doing my freelance job. My limited budget is also the fun part of it (I hope!), because I will have to wait for a garage sale, or huge discounts in stores I like, or even hunting to thrift market all over my city. After all who wants to read about someone decorating with an unlimited budget? Oh, you do? My bad. :p