Jumat, 08 April 2011

Pillows that inspire me

There is something about cute and unique pillows that make my heart melts.

From: http://style-files.com/

Zusss is a small Dutch label that makes beautiful linen pillows with prints from old Dutch stamps. They also have a collection of pillows made from peanut bags from countries such as Morocco, Argentina and Israel. Nice!



Nice pillows, aren’t they? The designer is Margareta Lorenzo and her stuff is called Chocolate Creative. Those pillows are from one of her collection’s line, Decayed Glamour.
She wrote a fantastic blog too. Check out http://chocolatecreative.blogspot.com/



 I don't know who's the designer, but I love every bit of them!


Kamis, 07 April 2011

Vintage Ads, modern products in a vintage light (Part 1)

Came across these vintage ads in http://fx.worth1000.com/contests/2144/vintage-ads a while back, can't get enough of em!













Funny cute and funny haha at the same time!

Yay! A garage sale is a comin'!


Can't wait for this one. It's pity that I can't contribute my things to this event because a month ago I just had my share of spring cleaning and gave my unused stuff to my relatives. But it's okay, I'm looking forward to find some hidden gems there and maybe participate next time! Want to receive complete infos on their garage sale? Join their FB group: http://www.facebook.com/group.php?gid=109798801843

Kamis, 31 Maret 2011

Inspiring items


Vintage Trunk
From: http://ideas.homelife.com.au/

Vintage Globe
From: http://sundayinbed.tumblr.com/


Retro Telephone
From: http://www.etsy.com/

Retro Fan
From: http://www.poetichome.com/

Sebuah mesin jahit

Tiap benda punya sejarah. Makin panjang sejarahnya makin menarik. Mungkin itu kenapa saya menyukai barang-barang retro dan antik. Each of them has a story. Mungkin kalau anda membeli sebuah barang antik di flea market atau di toko, anda tidak tahu sejarahnya, tapi pasti ada. Berbeda dengan mass product yang fresh from the oven. Kurang seru. Saya suka mengkhayal sendiri tentang perjalanan sebuah barang, yang dibuat tahun sekian dan berakhir di rumah saya. Berapa rumah yang menjadi indah karenanya. Berapa keluarga yang dibahagiakan karenanya. Aih, jadi sentimentil.

Seperti mesin jahit ini. Mesin jahit klasik ini adalah milik nenek saya, dari tahun 50an. Kalau menurut ibu saya, beliau ini adalah wanita terhebat di dunia. Bukan hanya fakta bahwa dia membesarkan 6 anak sendirian (kakek saya meninggal waktu ibu saya masih berumur 6 tahun), tapi bahwa dia sangat canggih mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Dulu waktu saya belum menikah dan mendengar cerita ibu saya tentang beliau, saya hanya berpikir, apa susahnya sih mengurus rumah? Bagi saya waktu itu, mengerjakan tugas kantor pastinya lebih sulit. Tetapi setelah menikah, mempunyai anak, dan mempunyai rumah sendiri, wow, susah ya ternyata. Di kantor kita bisa berusaha heartless dengan alasan profesional supaya kerjaan beres, tapi di rumah, we have to be all heart but need every task to be done also.

Kembali tentang nenek saya, membesarkan 6 anak sendirian itu benar-benar literal. SENDIRIAN. Tidak ada pembantu, baby sitter, dan pastinya tidak ada suami. Dan karena hanya mengandalkan dana pensiun, jadinya pengeluaran juga harus diatur dengan hati-hati. Makanan dimasak sendiri, bahkan untuk beberapa bahan makananpun tidak membeli jadi tapi dibuat sendiri. Nah, apalagi dana untuk belanja-belanji, mana ada? Tapi anehnya, waktu saya melihat foto-foto mereka, keluarga nenek saya, wow, modis-modis sekali. Kok bisa? Ternyata, ini semua karena mesin jahit ini.



Ibu saya bercerita tentang bagaimana nenek saya menjahit sampai tengah malam, demi karena salah satu anaknya ada acara kostum di sekolah. Atau betapa dia sampai terkantuk-kantuk membuat baju pesta dansa untuk salah seorang anaknya yang mau datang ke perpisahan sekolah. Bayangkan, sempat-sempatnya dia menjahit semua baju boneka ibu saya, lengkap dari baju rumah, baju tidur, sampai baju pesta! Ini semua beliau kerjakan menggunakan mesin jahit merek Singer ini. Ketika ibu saya dewasa, beliau juga menjahit baju-baju pestanya dengan mesin ini. Bisa tuh, menjahit di hari Kamis, kelar di di hari Sabtu, malamnya berangkat deh ke pesta dansa!




Mesin jahit ini kemudian diwariskan dari ibu saya kepada saya. Ajaibnya, barang antik yang umurnya jauh lebih tua dari saya ini, masih bekerja dengan baik. Saya malah sudah sempat mengganti kain sofa-sofa dan beberapa kursi, dijahit menggunakan mesin ini, awal Februari lalu. Jangan kagum dulu, yang mengerjakan bukan saya tapi seorang tukang sofa yang bisa dipanggil ke rumah. Namanya Pak Peter. Saya belum bisa menjahit sampai sekarang. Nanti mungkin akan belajar. :)

Saya jadi mencari tahu juga soal Isaac Singer,  pendiri perusahaan mesin jahit Singer. Jadi dari yang saya baca, beliau inilah yang menemukan mekanisme naik turun pada mesin jahit dan Allen Wilson mengembangkan alat kait pemintal berputarnya. Awalnya memang beliau tidak langsung memproduksi mesin jahit, tapi mesin pengebor batu (1839) dan mesin ukir kayu dan logam (1849). Barulah kemudian dia memproduksi mesin jahit, kemudian mendirikan IM Singer Co sebagai produsen mesin tersebut. Mesin jahit memang belum menjadi barang produksi massal hingga tahun 1850-an. Setelah Isaac Singer berhasil membuat mesin jahit dengan jarum jahit yang bisa digerakkan kayuhan pedal kaki, maka kesuksesan penjualan mesin jahit secara komersial terbuka. Sebelumnya, mesin jahit terdahulu menggerakkan jarumnya dari pinggir dan digerakkan dengan tangan.

Tapi yang saya tahu hebat juga selain Isaac Singer dan ibu saya, adalah nenek saya. Meskipun belum pernah bertemu dengannya karena beliau meninggal sebelum ibu saya menikah, saya suka membayangkan dirinya menjahit dengan mesin jahit ini di rumah saya. Horor? Ya nggak lah. Nenek sendiri kan. :)




Cerita untuk si kecil

Bumi sedang haus sayang
Kerongkongannya perih dan terluka
Menelan paku dan beling yang kita tebar di pesisir
Dehidrasi karena hujan lupa tercurah

Bumi sedang lapar sayang
Lambungnya teriris dan bernanah
Mencerna tulang belulang sisa peradaban
Hanya tulang bukan daging

Sekarang bumi marah sayang
Histeris dalam keputusasaan
Berdarah dilumur dendam
Menjerit karena dinomorduakan

Bumi mulai apatis sayang
Atau mungkin mencoba melupakan
Bahwa dia pernah mencoba mencintai
Tetapi selalu dikecewakan

Semua memang salah kita
Suami-suami tak bertanggung jawab
Isi rahimnya kita jarah paksa
Kita jual seperti budak belian

Haus.
Lapar.
Marah.
Apatis.

Itu semua sudah lewat
Sekarang langit malas menjawab
Semua doa yang kita panjatkan
Dimuntahkan lagi dengan muak ke tanah

Bumi sekarat sayang
Nafasnya tersenggal sambil ia meregang
Dan ini semua karena kita
Suami-suami bumi yang lupa daratan

Jakarta, 2008

Note: Puisi ini saya buat pada tahun 2008. Waktu itu saya baru melahirkan anak kedua saya, Gemayel. Dengan dua anak di samping saya yang baru saja mau memulai hidupnya, sayang sekali kalau saya sebagai orang tua nggak berusaha untuk melakukan langkah-langkah kecil yang membuat dunia mereka nanti lebih nyaman dihuni. We could do it. One step at a time.

Why Retro?

Me and my hub bought our first home a few years back. Obviously I’m into retro interior, love collecting furnitures from the 50’s and 60’s. I know, it’s not easy to be all vintage because it takes a lot of effort (and money) to do a refurbish. But I’m sure it would be much more economical than buying a new expensive one and (or) buying cheap ones only to see them deteriorate in a couple of years.

Of course vintage is not always attractive, so refurbishing can give a fresh new feel to it. I'm not trying to be greener-than-thou, but we could start by stopping ourselves from dumping garbage to this wonderful earth. I’m also not against combining vintage furnitures with the a good quality modern ones with the retro look. It's like being a vegetarian lacto ovo, before going all vegan. ;) Good quality funitures last longer than some cheapo stuff that we mindlessly bought. If we're bored with them, we could always sell them in some garage sale so other people could use them for their houses. The key is good quality ones. After all, other people's garbage could be other people's treasures.

One step at a time.